Selasa, 20 Januari 2009

Sensasi Kopi Luwak

Setelah lama tak menulis karena berjibaku dengan seabreg kerjaan kantor, akhirnya saya bisa kembali melepas rindu dengan blog “kesayangan”. Sebenarnya ini juga karena sudah ada beberapa kawan yang protes akibat blog ditinggal terlalu lama. Uniknya pada hari “bebas tugas” ini justru saya wajib menyerahkah hasil rekap audit yang sudah berjalan sejak bulan lalu. Hehehe...

Akibat suntuk yang teramat sangat, akhir minggu lalu saya—bersama dengan seorang kawan—memutuskan untuk rehat sejenak dan menikmati waktu luang dengan datang ke sebuah pameran bertajuk “Warisan Budaya Peranakan Tionghoa.” (Saya janji cerita soal pameran ini akan menyusul).

Hari minggu itu, dengan hati penuh letup semangat, saya gerakkan kaki ini menuju pusat perbelanjaan baru dekat Gelora Bung Karno. Tempat yang saya tuju ini adalah titik pertemuan yang sudah saya dan kawan sepakati sehari sebelumnya. Rupa-rupanya kawan saya itu terlambat dan memaksa saya harus mencari persinggahan sementara. Jadi, mulailah saya melirik ke kanan dan ke kiri mencari sekedar tempat nyaman untuk menunggu barang setengah jam.

Tak sengaja mata ini melihat cafe yang menjual kopi luwak. Wah.. nama kopi luwak memang tidak asing lagi di telinga saya, tapi kalo soal mencicipi harus saya akui saya belum pernah meminumnya, karena jujur saya bukan penggemar kopi—walaupun saat kuliah dulu kopi adalah “candu” agar mata ini tetap melek dan siap membaca setumpuk buku.

Yang saya tahu, kopi yang berasal dari daerah Sumatra ini memiliki proses produksi yang unik. Asal tahu saja kopi ini dihasilkan dari kotoran hewan luwak (sejenis musang) yang memakan biji-biji kopi. Mendengarnya memang membuat badan bergidik dan jijik ya. Tapi, jangan salah karena kopi luwak rupanya dikenal kenikmatannya hingga seantereo jagad sampai kopi ini pun menjadi kopi termahal di dunia! Bayangkan dari info yang saya dapatkan, di luar negeri orang harus merogoh kantong hingga ratusan dollar untuk bisa menikmati kopi ini. Jadi tak heran kalo kita pernah melihat liputan kopi luwak di acara Oprah Winfrey Show. Dan buat yang menyaksikan, pasti ingat Ms. Winfrey sampai hilang kata-kata mendengar “kotoran” luwak bisa menjadi komoditi yang mahal harganya. Tapi saya lupa, apakah Oprah sempat mencicipi kopi asal Indonesia ini. Adakah yang ingat?



Buat saya yang bukan seorang barista atau pun penggemar kopi, rasa kopi luwak tak ada bedanya dengan kopi yang biasa saya minum. Tapi tentu seorang barista bisa membedakannya ya?

Yang pasti tak ada salahnya Anda mampir ke warung kopi yang menjual kopi luwak. Paling tidak untuk menghilangkan rasa penasaran. Tenang... di sini Anda bisa menikmat secangkir kopi luwak dengan harga yang “wajar” sekitar Rp. 18.000. Selamat menikmati...

Rabu, 25 Juni 2008

Mencuri Perhatian Dunia di Ajang Pemilihan Ratu Sejagad

Terlepas dari pro dan kontra keikutsertaan Indonesia dalam ajang Miss Universe, sebenarnya kita patut bangga dengan duta-duta Indonesia di acara pemilihan ratu sejagad ini. Tentu saja bukan dalam sesi pakaian renang yang senantiasa menjadi kontroversi, melainkan dalam kompetisi busana nasional (national costume). Pada sesi ini, Indonesia berkesempatan memperkenalkan kekayaan sekaligus keragaman budaya Indonesia, yang terwujud dalam busana-busana nan apik.

Pada pemilihan Miss Universe 2008, yang digelar hingga 14 Juli 2008 di Vietnam, wakil Indonesia, Putri Raemawasti, mengenakan busana yang terinspirasi dari pakaian adat Papua. Busana karya Anne Avantie ini diberi tema “Senandung Bumi Papua”. Anne Avantie sendiri merupakan perancang senior yang dari tahun ke tahun diberi kepercayaan untuk merancang busana nasional bagi wakil-wakil Indonesia. Walaupun gagal memperoleh gelar best national costume, busana ini sebenarnya memiliki nilai tersendiri buat bangsa Indonesia. Paling tidak ini merupakan busana nasional pertama yang bernuansa Indonesia Timur dalam pentas Miss Universe; sekaligus menegaskan pada kita bahwa busana nasional Indonesia tidak hanya kebaya.

Di tengah kontroversi keikutsertaan Indonesia secara penuh pada
Miss Universe di tahun 2005, Artika Sari Devi justru tampil membanggakan di ajang national costume. Saat itu, Artika mengenakan kebaya khas Bali berwarna merah muda. Ia tampil anggun dan luwes di pentas, hingga akhirnya berhasil masuk 15 besar.

Dan ketika banyak orang mencela kemahiran bahasa Inggris Nadine Chandrawinata, kita harus mengakui Nadine memiliki busana nasional yang paling indah diantara Puteri Indonesia yang lain. Kebaya Kencono Wungu—yang terinspirasi dari tokoh legenda Ratu Kencono Wungu di zaman Majapahit—berhasil menjadi runner up best national costume saat itu.



Tahun lalu, Agni Pratistha mengenakan busana nasional yang bertemakan pakaian adat Dayak Kenyah. Agni dengan lincah menari dengan hiasan bulu-bulu layaknya wanita Dayak. Busana Dayak ini juga merupakan salah satu busana nasional terbaik yang pernah ditampilkan Indonesia dalam pagelaran Miss Universe. Sayangnya, tahun itu panitia meniadakan penghargaan best national costume. Tantangan justru datang dari negara tetangga Malaysia, yang saat itu juga mengenakan pakaian adat Dayak.

Kompetisi national costume pun tidak hanya diselenggarakan pada gelaran Miss Universe. Di ajang serupa, seperti Miss International, kompetisi ini juga digelar. Tahun lalu, pada Pemilihan Miss International 2007 di Jepang, Rahma Landy mengenakan pakaian adat Lampung yang dimodifikasi bergaya kebaya. Ia tampil memukau dengan siger atau mahkota pengantin wanita khas Lampung. Di ajang ini, Rahma berhasil menembus 12 besar.



Sekali lagi, tulisan ini tidak berniat untuk mencondongkan diri dalam pro dan kontra keikutsertaan Indonesia dalam ajang Pemilihan Ratu Sejagad. Ini cuma soal mencuri perhatian dunia dengan keragaman budaya bangsa.

Selasa, 17 Juni 2008

Sehari Menjadi Tamu Presiden

Awan mendung yang malas beranjak dari langit pagi itu rupanya tidak menyurutkan minat orang untuk berkunjung ke Istana Kepresidenan Jakarta. Sejak dibuka untuk umum mei lalu, istana yang terletak di Jl. Medan Merdeka Utara ini tak surut dikunjungi banyak orang. Tua ataupun muda, warga Jakarta ataupun warga daerah berebut untuk menjadi “tamu presiden”.

Pagi itu tepat pukul 9.00, saya bersama dengan empat kawan yang lain telah berada di halaman gedung Sekretariat Negara. Dari sinilah Wisata Istana Kepresidenan dimulai. Wisata ini tidak dipungut biaya alias gratis. Setiap pengunjung yang datang akan dipanggil sesuai dengan nomor urut dan selanjutnya akan diberi kartu ID sebagai tanda masuk.


Sebenarnya prosedurnya sangat mudah. Tapi kenyataannya memang tidak seperti yang dibayangkan. Begitu banyaknya rombongan sampai-sampai tempat pendafaran menjadi penuh sesak dan tidak tertib. Tiap rombongan meminta didahulukan dengan berbagai alasan, padahal jumlah mereka banyak. Alhasil kami yang cuma berlima ini harus rela mengantri lama.

Akhirnya setelah 3,5 jam menunggu dan setelah mencicipi es krim di Ragusa—sebuah toko es krim yang sudah ada sejak 1930an—barulah kami mendapat tanda masuk. Dan baru sekitar jam 1, kami bisa masuk ke areal istana.





be-te karena harus menunggu lama
(lokasi: tempat pendaftaran, gedung Sekneg)


Mula-mula pengunjung akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok akan berada di bis yang sama dengan seorang guide. Mbak-mbak yang jadi guide-nya rupanya adalah Polwan atau TNI yang diperbantukan.

Mula-mula kami diajak menyaksikan film singkat tentang Istana Kepresidenan Jakarta. Dari sana barulah kami dipersilakan memasuki areal Istana Kepresidenan.

Komplek Istana Kepresidenan Jakarta terletak di Jl. Merdeka Utara, di atas tanah seluas 6,8 hektar. Istana Kepresidenan Jakarta terdiri dari dua bangunan, yaitu Istana Merdeka yang menghadap ke Monas, dan Istana Negara, yang menghadap ke Sungai Ciliwung, disamping bangunan-bangunan lain seperti Kantor Presiden, Wisma Negara, Masjid Baiturrahim, dan Museum Istana Kepresidenan serta halaman yang rindang karena ditumbuhi oleh pohon-pohon tua.

Istana Merdeka

Istana Merdeka dibangun pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge. Pada saat Indonesia merdeka, Istana Merdeka justru tidak menjadi saksi kebesaran bangsa ini karena pada saat itu istana ini masih dikuasai oleh Belanda. Namun, di istana ini Kerajaan Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Dengan berjalannya waktu, bendera Merah Putih pun berkibar di depan Istana Merdeka sebagai pengganti bendera Belanda.

Disinilah Peringatan Detik-detik Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus digelar. Di sini pula Presiden menyambut tamu negara, menerima surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat yang akan bertugas di Indonesia, serta menerima ucapan selamat dari para kepala perwakilan negara negara asing pada saat perayaan Hari Kemerdekaan.

Di Ruang Resepsi, yang merupakan ruangan terbesar, pengunjung dapat melihat lukisan Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro”. Dari sekian maha karya yang ada di Istana Merdeka, karya inilah yang paling membuat saya kagum. Ruangan lain yang ada di Istana Merdeka adalah Ruang Bendera Pusaka yang digunakan untuk meletakkan Bendera Pusaka yang pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945 dan duplikatnya.

Istana Negara

Istana Negara dibangun lebih awal daripada Istana Merdeka, yaitu pada tahun 1796 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Semula gedung ini merupakan rumah peristirahatan milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Saat ini, Istana Negara merupakan kediaman resmi Presiden RI. Pantas saja pengunjung tidak diperkenankan masuk ke dalam istana ini.

Satu jam berlalu dan kunjungan kami di Istana Kepresidenan pun berakhir. Sebelum pulang, jangan lupa beli oleh-oleh di Toko Souvenir yang terletak di tempat pendaftaran. Disana Anda bisa menemukan berbagai souvenir berlogo Istana Kepresidenan. Tidak murah memang, tapi lumayan sebagai kenang-kenangan.

Bagi Anda yang berniat berkunjung ke Istana Kepresidenan Jakarta, berikut tips dari saya:
  1. Sementara ini wisata istana presiden Jakarta hanya dibuka pada hari sabtu dan minggu. Sesuai saran Paspampres yang saya temui tempo hari, datanglah pada hari minggu karena relatif lebih sepi pengunjung ketimbang hari sabtu. Mengingat banyaknya jumlah pengunjung, datanglah pagi-pagi. Wisata ini dibuka mulai pukul 9.00 sampai 16.00. Datanglah sebelum jam 9.00.
  2. Jangan lupa membawa kartu identitas (KTP, kartu pelajar/mahasiswa, atau paspor). Tanpa ini, Anda tidak diperbolehkan masuk.
  3. Tidak boleh mengenakan kaos, sandal jepit, celana pendek dan jeans. Intinya kenakanlah busana yang sopan. Jangan membawa bawaan terlalu banyak karena kita tidak boleh membawa tas ke dalam istana. Pihak Istana menyediakan tempat penitipan barang.
  4. Karena tidak boleh membawa makanan dan minuman ke areal istana, ada baiknya Anda cukup makan dan minum sebelum mengikuti wisata ini. Terutama bagi Anda yang sudah sepuh.

  5. Handphone harus dimatikan selama wisata. Anda juga tidak diperkenankan membawa kamera. Akan ada juru kamera yang mengabadikan gambar Anda berlatar istana. Sayangnya Anda tidak boleh difoto sendiri-sendiri. Demi keamanan, pengunjung akan difoto bersama rombongannya. Jadi, buat Anda yang datang dengan kelompok kecil, Anda akan difoto dengan rombongan yang lain.

  6. Ingat senantiasa jaga ketertiban. Taati semua peraturan, termasuk tidak membawa senjata, melakukan orasi atau demo, menyebar pamflet, dsb. Jangan rusuh...

  7. Dan... (tak henti-hentinya saya mengingatkan) jaga kebersihan ya. Sampah mohon jangan dibuang sembarangan. Bapak dan Ibu Guru mohon ingatkan anak didiknya. Begitu pula dengan para orang tua. Kalau guru dan orang tuanya saja buang sampah sembarangan, bagaimana dengan anak-anaknya?? Malu sama bangsa lain.

Memang agak ribet ya? Yah namanya juga jadi tamu presiden...

Kamis, 29 Mei 2008

New 7 Wonders: Vote for Indonesia!

Setelah tahun lalu dipilih Tujuh Keajaiban Dunia Baru. Tahun ini kembali dilakukan pemilihan yang sama. Berbeda dengan sebelumnya dimana nominasi-nominasi yang dipilih adalah situs yang menggambarkan peradaban manusia, tahun ini tajuk yang diangkat adalah "New Wonders of Nature"—yang berarti nominasi-nominasinya adalah bentang alam.

Khalayak dapat memilih nominasi yang ada melalui www.new7wonders.com sampai dengan akhir tahun ini. Kita diminta untuk memilih tujuh nominasi sekaligus *mungkin untuk menjaga fairness ya* Hanya nominasi yang masuk 21 besar, yang dapat masuk ke tahap selanjutnya dan kemudian dipilih tujuh saja sebagai Tujuh Keajaiban Dunia.

Telah terpilih ratusan nominasi dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Ada tiga nominasi dari Indonesia, yaitu: Pulau Komodo, Gunung Krakatau, dan Danau Toba.



Sayang sekali posisi nominasi dari Indonesia sangat memprihatinkan. Pulau Komodo ada di urutan ke-37, Gunung Krakatau ke-79, dan Danau Toba ke-83. Sungguh miris, apalagi tahun lalu Borobudur gagal masuk menjadi Tujuh Keajaiban Dunia.



Hanya sedikit orang Indonesia yang tahu informasi ini. Padahal, kita harus bersaing dengan negara-negara lain yang lebih melek internet. Namun bukan berarti kita tidak mampu. Mari tunjukkan ke-Indonesiaan kita dengan melakukan vote untuk nominasi-nominasi dari Indonesia. Vote for Indonesia!

(Gambar: www.nationalgeographic.com)

Sabtu, 17 Mei 2008

Bravo Tim Uber Indonesia

Gelar juara memang tidak untuk kita tahun ini. Tapi bagaimana pun juga, tidak ada kata yang lebih pantas disampaikan kepada srikandi-srikandi Indonesia, kecuali kata “salut”. Kami bangga pada kalian. Selamat atas perjuangan dan kerja keras yang kalian tunjukkan. Bravo Tim Uber Indonesia!

Senin, 12 Mei 2008

Ayo Dukung Tim Thomas-Uber Indonesia!

Salah satu pertandingan akbar bulu tangkis—Piala Thomas dan Uber—kembali digelar. Kali ini Indonesia mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumahnya. Target yang dijunjung tim kita pun tidak lah mudah: merebut kembali Piala Thomas dan Uber dari tangan bangsa lain.

Boleh jadi ini kesempatan emas buat Indonesia. Walaupun tidak mudah, namun faktor “main di kandang” seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal oleh Taufik Hidayat dkk. Bagaimana tidak, keangkeran Istora Senayan memang sudah terkenal seantero dunia. Inilah mungkin satu-satunya tempat yang bisa membuat nyali tim-tim negara lain ciut lantaran Istora Senayan senantiasa gegap gempita.

Ya, suporter Indonesia memang dikenal “garang” oleh tim-tim lain. Sorak sorai mereka senantiasa bergemuruh mendukung tim kesayangan. Tak heran pemain lawan harus siap menghadapi lawan ke-2, yang tak lain adalah suporter Indonesia. Dijamin tidak ada suporter segila di Indonesia. Dan tradisi ini sepertinya tidak hanya ada di pertandingan bulu tangkis ya?

Suatu kali bahkan saya pernah membaca Tim Malaysia harus ekstra menggembleng mental para atletnya kalau hendak bermain di Indonesia. Mereka menyewa beberapa pelajar untuk berteriak-teriak di pinggir lapangan selama mereka latihan. Ya hitung-hitung latihan mental dan konsentrasi sebelum menghadapai suporter Indonesia *hahahaha*

Hari minggu ini perjuangan Tim Indonesia dimulai. Dan Istora Senayan telah bergetar oleh sorak-sorai ribuan suporter. Tak ada bedanya dengan sebuah pertandingan final. Ribuan orang bahkan tak kebagian tiket. Pemandangan ini jelas tidak biasa mengingat kemarin merupakan hari pertama penyelenggaraan Piala Thomas-Uber yang mempertandingkan babak kualifikasi.

Kalau dipikir-pikir semua itu memang beralasan. Sudah lama bangsa kita haus akan sosok pahlawan. Ketika masyarakat tengah muak dengan politisi yang mengaku-ngaku pahlawan, atlet-atlet negeri ini mampu hadir sebagai pahlawan bangsa. Prestasi kita memang belum mumpuni, tapi harapan itu tampak pada setiap orang di negeri ini.

Untuk sementara harapan itu memang terbayar. Kemarin, Tim Uber Indonesia—yang notabene tidak diunggulkan—mampu mengalahkan tim kuat Jepang dengan skor 4-1 *salut untuk Tim Uber Indonesia* Dan, walaupun terseok-seok dan nyaris kalah, Tim Thomas kita menggungguli Tim Thailand 3-2.

Pahlawan-pahlawan muda juga tampaknya akan bermunculan di tengah pudarnya nama-nama besar pemain lama. Pasangan Joko Riyadi-Hendra Gunawan membuktikan kemampuan mereka setelah kemarin malam menyelamatkan muka Indonesia yang nyaris kalah melawan Thailand lantaran senior-senior mereka justru tidak menunjukkan kualitas yang maksimal. Padahal sebelumnya, banyak yang mempertanyakan dan mengkritik masuknya nama mereka dalam tim. Simon Santoso, yang masih tergolong belia, turut bersinar dan memastikan kemenangan Indonesia. Salut untuk mereka semua... Walaupun perjalan memang masih terlalu panjang untuk menobatkan mereka sebagai pahlawan.

Ini juga bukan perjuangan mereka semata. Ini harus menjadi perjuangan bangsa Indonesia. Ayo kita dukung Tim Thomas-Uber Indonesia! Getarkan Istora Senayan...! Getarkan negeri ini...!

P.S. Buat yang nonton pertandingan Piala Thomas-Uber di Istora Senayan jangan lupa untuk tetap menjaga sportivitas, senantiasa tertib dan santun, dan jangan lupa untuk tidak membuang sampah sembarangan ya. Malu sama bangsa lain. Jadilah tuan rumah yang baik.

Senin, 21 April 2008

Kartini dan Ibu Kandungnya

Bagaimana Kartini bisa mendapatkan pemikiran yang moderat dan egaliter di zamannya? Darimana sumber inspirasi itu berasal? Sebagian orang mungkin berpikir inspirasi itu bersumber dari pendidikan barat yang sempat dienyam Kartini sebelum adat pingitan merenggut haknya semenjak usia 12,5 tahun—begitulah adat Jawa feodal yang memingit anak gadis mereka saat usianya cukup dewasa hingga seorang pemuda yang dianggap pantas bersedia meminangnya.

Yang lain mungkin berpikir bahwa sumber inspirasi itu datang dari kawan-kawan Belandanya. Semua orang tahu Kartini rajin menulis surat kepada kawan-kawannya itu, seperti keluarga Abendanon dan Stella Zeehandelaar. Atau, mungkin saja inspirasi itu merasuki pemikirannya lantaran ia melihat fakta bahwa bangsanya terjajah sejak lama.

Tapi pernahkah kita berpikir mungkin saja insipirasi itu diwarisi dari darah ibu kandungnya?

Lalu, siapakah ibu kandung Kartini? Kita tidak pernah mengenalnya seperti kita mengenal ayahnya yang pernah menjabat sebagai bupati Jepara. Buku-buku sejarah memang tidak pernah mengungkapnya. Kalaupun ada, tidak lebih dari sekedar nama. Wanita itu bernama Ngasirah—seorang jelata yang berkesempatan menjadi istri dari seorang bupati.

Di penghujung tanam paksa (cultur stelsel), seorang Asisten Wedana Onderdistrik Mayong, kabupaten Jepara, memadu kasih dengan seorang gadis anak buruh pabrik gula. Si Asisten Wedana, R.M.A. Sosroningrat, akhirnya menikahi gadis itu. Namanya Ngasirah. Sebagai seorang anak buruh pabrik gula, Ngasirah tidak lebih dari sekedar perempuan kelas bawah, kecuali nasibnya yang memang tampak begitu beruntung. Namun demikian, pada kenyataannya ia mungkin tidak seberuntung yang dibayangkan orang. Ia hanya dijadikan selir karena pada waktu itu Sosroningrat telah memiliki istri dan empat orang anak.

Pada 21 April 1879, mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Anak itu diberi nama Kartini. Tidak jelas dimana Kartini dilahirkan. Dalam bukunya, Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer meyakini Kartini lahir di gedung keasisten wedanaan—tempat tinggal ayahnya—walaupun mungkin bukan di rumah utama. Ia dilahirkan di sebuah rumah kecil di belakang rumah utama. Disanalah ibunya yang selir tinggal.

Wajah Kartini bundar.. matanya condong keluar. Ciri khas bangsawan Jawa yang tentu saja ia warisi dari kakek dan ayahnya. Tapi hidungnya sama sekali berbeda dengan leluhurnya. Kakeknya memiliki hidung yang tinggi, mancung, dan tipis—ciri-ciri bangsawan yang tidak dimiliki rakyat kelas bawah. Berbeda dari itu, hidung Kartini tidaklah tinggi dan tipis.. hidung yang lebih umum dimiliki rakyat jelata. Itulah hidung yang ia warisi dari seseorang yang gambarnya tidak pernah muncul dalam teks-teks sejarah. Ya, itu adalah milik ibunya.

Akan tetapi, siapa yang menyangka ciri fisik itulah yang menjadi penanda perbedaan Kartini dengan para leluhurnya? Pram menulis: “Kartini meneruskan garis kemajuan leluhurnya, terkecuali...bentuk hidungnya. Ternyata kelak, bahwa satu ciri bangsawan yang ditinggalkannya ini tidak lain daripada suatu ciri adanya perubahan dalam kostelasi kejiwaannya, suatu penyimpangan dari leluhurnya: padangan dunianya telah lebih kaya dengan satu unsur-unsur demokrasi.”

Tinggal dalam keluarga poligami dengan adat feodal, tentu amat mempengaruhi jiwa Kartini kecil. Tidak pernah diketahui bagaimana hubungannya dengan ibu tirinya—yang merupakan keturunan bangsawan Madura. Tapi tentu bisa dibayangkan, Kartini tumbuh besar di tengah-tengah kecemburuan atau setidaknya itu adalah drama cinta segitiga layaknya yang kita saksikan di sinetron masa kini.

Lebih daripada itu, gadis cilik itu tentu belajar untuk menerima diskriminasi secara legowo. Bukankah feodalisme telah mengajarkannya perbedaan antara “rumah utama” dengan “rumah luar”? Dan jarak antara rumah utama dengan rumah luar itu tentu bukan hanya sebatas jarak tempat ia berlari dan bermain dari satu ruang ke ruang yang lain dalam rumah ayahnya. Jarak itu punya makna yang mendalam sebagai garis pembatas yang diciptakan oleh nenek moyangnya.

Dalam surat-suratnya, Kartini tidak pernah menulis tentang ibu kandungnya. Entah mengapa ia begitu. Akan tetapi, jelas bukan karena ia tidak menghormati ibu kandungnya. Mungkin saja karena sedari kecil ia sudah tidak lagi diasuh ibunya karena wanita itu tidak lagi tinggal bersamanya. Tapi ini hanyalah praduga dari sekian praduga yang ada. Dan praduga yang lebih tepat mungkin lantaran Kartini begitu menghormati dan mencintai ayahnya. Dalam adat ningrat yang kental, sudah pasti amat tidak etis mengkaitkan seorang pria bangsawan dengan seorang gadis jelata. Pram menulis: “Orang yang tidak mungkin mau menyakiti hati ayahnya, sengaja atau tidak sengaja, tentulah tidak akan mengiklankan diri sebagai anak selir ataupun anak istri kesekian kepada orang lain, karena bagaimanapun garang ia membela ibunya, sebenarnya ia tidak lain daripada melawan ayahnya sendiri.”

Kondisi ini menjadi konflik batin bagi Kartini. Sebagai seorang anak yang berbudi, ia pasti hendak memilih kedua orang tuanya. Namun demikian, toh pada akhirnya ia memilih jua. Rasa ketidasetujuannya terhadap poligami memberikan tanda atas hal itu—walaupun di kemudian hari ia pun tidak luput dari jerat poligami. Tidakkah suara ketidaksetujuannya itu adalah perwujudan rasa hormat kepada ibunya? Dan mungkin juga kepada ibu tirinya.

Ngasirah mungkin tidak pernah menyadari bayi perempuan yang ia lahirkan dari rahimnya kelak menjadi tokoh besar di negeri ini. Hidupnya bisa saja telah menginspirasi Kartini. Seberapa besar porsinya? Kita tidak pernah tahu. Sebagai seorang yang bukan sejarawan, tidak pantas jika saya mengungkapnya. Dan sebagai seorang yang bukan psikolog, tidak etis jika saya menduga-duga batin seorang Kartini. Yang pasti semua itu tidak dapat menghapus hubungan antara Kartini dengan ibu kandungnya.